77 / 100 Skor SEO

“Suara yang Kini Berani: Ketika Gugup Bukan Lagi Halangan, Melainkan Bahan Bakar”
Oleh: Zulfa Melany Putri

Dulu, rasanya jika harus tampil kedepan untuk berbicara adalah suatu hal yang terasa seperti ancaman, saat dimana mic terasa seperti senjata tajam yang mengancam dan menakutkan bahkan untuk sekedar menggenggam.

Keyakinan yang tertanam bahwa berbicara adalah bakat yang diperoleh sejak lahir dan bukan diciptakan, keyakinan bahwa lebih baik duduk menjadi penonton dan berada di zona nyaman daripada harus menjadi penampil, yang harus berbicara, dan mempersiapkan penampilan.

Dulu, diam adalah zona aman namun sekarang bertanya dan berpendapat adalah suatu kebutuhan.

Perjalanan satu semester dalam mata kuliah keterampilan berbicara ini tentunya tidak mudah, sampai akhirnya saya menyadari bahwa berbicara bukanlah bakat namun pelatihan yang tidak bisa didapat dalam satu pertemuan, suara harus selalu dipahami, dilatih, diasah dan akhirnya, dipercaya.

Bicara memang suatu hal yang mudah, namun “berbicara” adalah suatu seni, pada pertemuan pertama, hal yang saya lakukan adalah berbicara seadanya dan seperlunya.

Namun pada pertemuan terakhir ini berbicara sungguh sangat mengubah saya, dimana ada kebahagiaan tersendiri saat saya diberikan kesempatan untuk berbicara didepan, dan kini saya menyadari bahwa saya sudah berada pada tahap berhasil mengubah kata menjadi narasi, mengubah suara menjadi instrumen, dan mengolah kecemasan menjadi energi.

A. Perkembangan Kemampuan Berbicara Yang Dirasakan

Perkembangan kemampuan berbicara saya selama satu semester ini jika saya analogikan seperti seorang “petani” yang menanam padi di lahan, dulunya saya adalah petani yang menebar benih padi sembarangan, tidak beraturan dan benih padi yang tersebar terlihat sangat kacau dan berantakan, itulah saya yang dulu bicara ala kadarnya, tanpa perhitungan apalagi improvisasi.

Namun secara mengalir akhirnya saya mulai menyadari bahwa saya harus memperbaiki “benih” yang hendak saya tanam agar tumbuh “padi” yang berkualitas, perlahan saya mulai memperbaiki gaya bahasa, intonasi, nada dan volume.

Saya menyadari bahwa gaya bicara saya sejauh ini sangat kaku dan cenderung kurang fleksibel, intonasi yang cenderung datar dan tidak terdapat variasi nada bicara, bahkan yang paling menonjol dan sering mendapatkan kritik dari diri saya ketika berbicara adalah “volume” suara yang nyaris tidak terdengar, hanya terdengar seperti hembusan angin yang mengalun.

Kesadaran itu tentunya harus dilengkapi dengan pemberian pupuk dan perawatan tanaman, awalnya terasa mustahil untuk mulai memperbaiki gaya bicara saya agar tetap bisa memandang audiens tanpa menunduk atau bahkan mengalihkan pandangan keatas, rasanya mustahil jika saya mampu untuk dapat memberikan variasi intonasi agar suara saya tidak terdengar seperti jalan tol yang lurus lurus saja tanpa adanya variasi tinggi rendahnya nada, dan puncaknya sangat tidak mungkin rasanya jika saya sanggup untuk berbicara dengan keras dan lugas, berani memandang audiens, dan tentunya berbicara dengan volume yang pas agar tidak terdengar seperti hembusan angin atau kilatan halilintar.

Saya selalu berusaha memperbaiki cara bicara saya dari berbagai aspek, mulai dari berlatih berbicara didepan cermin hingga mendengarkan rekaman suara saya sendiri yang pada awalnya tentu terasa sangat aneh, dan puncaknya adalah ketika saya sangat menggemari segala hal seputar berbicara, ada kepuasan tersendiri saat dimana saya mampu menyampaikan pesan atau argumen yang dapat didengar serta diterima oleh audiens dengan jelas dan maknanya dapat tersampaikan dengan baik dan utuh.

B. Aktivitas Atau Materi Yang Paling Berkesan Selama Satu Semester

Dari seluruh rangkaian kegiatan yang telah terlaksana selama 16 kali, mulai dari presentasi individu, diskusi, debat, focus group discussion, hingga pelatihan membaca puisi mulai dari ekspresi, intonasi, pelafalan, aktivitas yang paling berkesan adalah saat saya mendapatkan job desk sebagai master of ceremony (MC) dalam acara seminar akademik skala kecil yang diadakan dikelas, aktivitas ini tentunya memerlukan banyak persiapan mulai dari menyusun rundown, membuat cue card, hingga simulasi kegiatan bersama partner MC.

Melalui kegiatan ini saya lebih terlatih untuk pengembangan publik speaking, memfokuskan pandangan kepada audiens, menjaga ekspresi wajah, hingga pemeliharaan intonasi dan nada bicara.

Mengapa saya mengatakan ini adalah salah satu aktivitas yang paling berkesan? Karena tugas kami bukan sekedar menjadi MC, namun juga sebagai Sutradara yang bertugas memandu acara dari awal hingga akhir, harus dapat mencairkan suasana, menyelipkan ice breaking disaat audiens merasa bosan, hingga berlatih untuk hal hal tak terduga.

Beragam jenis audiens pun turut menjadi tantangan tersendiri, ada yang fokus mendengarkan, fokus dengan gawainya, hingga yang sengaja memberikan pertanyaan kritis diluar script.

Sejak saat itu saya menyadari bahwa publik speaking bukan hanya tentang penguasaan materi namun juga tentang interaksi bersama audiens.

C. Tantangan Yang Dihadapi dan Cara Mengatasinya

Dua tantangan yang saya hadapi adalah takut akan penilaian audiens, saya merasa sangat bersalah jika nantinya script yang saya bacakan berbeda dari yang seharusnya.

Langkah yang dapat saya lakukan untuk meminimalisir kekeliruan tersebut adalah melatih gaya bicara, intonasi, bahkan Gerakan tangan sebelum hari presentasi tiba, menurut saya hal tersebut cukup efektif untuk mengatasi kekhawatiran saya akan kekeliruan dalam pembacaan materi.

Selain itu saya juga akan mencari referensi dari 2-3 sumber rujukan untuk memperkuat argumen saya dalam presentasi.

Tantangan yang kedua adalah kecemasan berbicara didepan publik, saat berdiri di depan kelas mendadak lutut terasa bergetar, pikiran hampa, dan hal yang saya lakukan untuk mengatasinya adalah dengan manifestasi bahwa saya berdiri didepan bukan untuk tampil sempurna melainkan untuk menyampaikan hasil diskusi dengan efektif, serta melihat audiens sebagai mitra diskusi.

D. Kompetensi Berbicara Yang Paling Berkembang

Dari semua aspek kompetensi berbicara yang paling berkembang adalah penguasaan intonasi, melalui mata kuliah ketrampilan berbicara ini saya jauh lebih memahami pentingnya variasi nada, kapan saatnya kita harus menggunakan nada tinggi dan rendah,seperti nada tinggi digunakan untuk menyampaikan hal yang mengandung semangat, dan nada rendah yang digunakan untuk hal hal serius, dengan penggunaan intonasi yang tepat saya yakin audiens akan lebih mudah menangkap pesan yang kita sampaikan.

Selain itu aspek penguasaan panggung juga mengalami peningkatan, dimana saya sekarang memiliki cukup keberanian untuk menatap kearah audiens dan bukan ke langit langit atas atau menunduk, saya sadar bahwa publik speaking bukan hanya tentang penyampaian materi, namun juga tentang bagaimana kita mampu berinteraksi dengan audiens.

E. Makna Atau Relevansi Pembelajaran Bagi Kehidupan Akademik/Profesional

Dalam konteks akademik, keterkaitan yang saya adalah bagaimana saya mampu menjadi lebih cakap dalam menyampaikan materi, sekarang presentasi bukan lagi sesuatu yang menyeramkan namun sarana presentasi sebagai media penyampaian hasil diskusi.

Selain itu, kemampuan improvisasi saya terlatih saat mendapat pertanyaan dadakan dalam sesi presentasi, melalui mata kuliah ketrampilan berbicara kini saya memahami bahwa berbicara bukan sekedar menyampaikan materi, namun juga tentang seberapa besar penguasaan kita saat berdiri didepan serta seberapa kejelasan dalam penyampaian materi.

Contoh konkret pengalaman yang paling menegangkan sekaligus berkesan adalah ketika saya dipercaya bertugas sebagai master of ceremony dalam acara seminar kecil kecilan bertajuk “suara mahasiswa”, momen ini bukan sekedar menjadi seorang pemandu acara, namun juga ketika saya dituntut untuk menyusun rundown dengan alokasi waktu yang terukur, sekaligus menyusun script yang fleksibel namun tetap terstruktur, kemampuan improvisasi sangat diutamakan saat momen ini, disamping itu pentingnya menjaga senyum dan kontak mata juga tidak kalah penting.

Momen ini menjadi bukti bahwa public speaking yang efektif merupakan perpaduan selaras antara persiapan materi yang matang dan kemampuan berinteraksi dengan audiens.

Perjalanan satu semester dalam mata kuliah Keterampilan Berbicara telah mengubah rasa takut saya menjadi keyakinan bahwa setiap suara berhak didengar.

Saya berkomitmen untuk terus mengasah keterampilan berbicara ini dengan aktif berpartisipasi dalam diskusi publik dan mengeksplorasi suara melalui berbagai forum.

Harapan terbesar saya, keterampilan ini tidak hanya menjadikan saya pembicara yang baik, tetapi lebih penting lagi, menjadi pribadi yang mampu menyampaikan pemikiran dengan percaya diri dan penuh makna untuk menginspirasi dan bermanfaat bagi semua orang.

 

Penulis : Zulfa Melany Putri, Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya