Sastra sebagai Cermin Peradaban: Refleksi Kritis Perjalanan Sejarah Sastra Indonesia
Oleh : Rahma Izza Azizah_25020074102
Saat saya tahu pada semester satu ini saya diberikan paket SKS mata kuliah Sejarah sastra, saya merasa sangat asing dan pengetahuan saya tentang sejarah sastra sangat sedikit sekali.
Awalnya saya beranggapan bahwa mata kuliah ini akan cukup rumit untuk saya lalui satu semester ke depan.
Tetapi anggapan itu tidak berlangsung lama saat saya diajar oleh Bapak Ahsan, beliau membuat pembawaan materi yang unik dan mudah untuk saya pahami.
Mata kuliah Sejarah sastra memaparkan tentang perkembangan karta sastra dari masa ke masa, baik didalam lingkup Indonesia maupun dunia.
Dengan Sejarah sastra membuat saya melek akan bagaimana karya sastra lahir, berkembang, dan dapat menjadi alat untuk menyuarakan yang terpendam kala itu.
Umumnya, mata kuliah ini ada untuk menelusuri jejak evolusi sastra mulai dari sastra lisan hingga sekarang dikenal dengan sastra kontemporer atau digital.
Saya berharap untuk dengan mudah memahami karya sastra lebih mendalam, hal yang melatar belakangi suatu karya, dan bagaimana sastra bisa berperan dalam kemerdekaan Indonesia pada kala penjajahan.
Dan saya juga berharap setelah saya memahami Sejarah sastra ini dapat dengan mudah membantu saya sebagai calon pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia dengan dasar historis yang kuat.
Dengan berbekal pemahaman kuat saya, semoga saya bisa melihat sastra lebih utuh dan bisa menggabungkan antara pengetahuan historis dan pengalaman personal dalam mengekspresikan karya sastra.
Setelah satu semester saya lalui, pemahaman saya tentang periodesasi sastra Indonesia menjadi lebih kuat, mulai dari latar belakang periode itu lahir, tokoh-tokoh pentingnya hingga, ciri khas dari satu period eke periode lainnya.
Pertama kali saya tahu bahwa adanya beberapa Angkatan seperti Balai Pustaka, Pujangga Baru, dan Angkatan 45.
Bapak Ahsan menugaskan setiap kelompok untuk membuat poster dari setiap Angkatan tadi, dan membuat perpustakaan mendalam yang dapat dengan mudah saya pahami.
Dengan perpustakaan berjalan itu tadi setiap kelompok menampilkan karyanya dan seluruh teman-teman mendatangi berbagai karya tersebut untuk menanyakan lebih dalam dari hasil poster yang telah ditampilkan.
Saya juga memahami bahwa sastra modern tidak akan lahir tanpa sebuah dasar yang berasal dari tradisi lisan Nusantara.
Seperti Dongeng, Mantra, Pantun, Hikayat, dan Syair ini merupakan sarana komunikasi oleh budaya Indonesia yang membentuk nilai sosial Masyarakat, jadi bukan hanya sebagai hiburan semata.
Dari sini saya bisa melihat sastra yang bentuknya paling dasar dan sederhana namun penuh akan makna yang terkandung.
Masuk pada periode Balai Pustaka, disini sastra mulai dipengaruhi oleh dampak penjajahan, seperti halnya pada karya Siti Nurbaya atau Azab dan Sengsara, ini merupakan sebuah bukti refleksi social yang membawa konflik antara adat dan modernitas.
Dengan mempelajari karya tersebut saya bisa lebih peka bahwa sastra tidak lahir dari ruang kosong namun ia selalu memiliki alasan untuk ada dan terus berkembang.
Periode Pujangga Baru, saya mempercayai bahwa sastra dapat menjadi ruang untuk pembaruan gagasan. Sutan Takdir Alisjahbana dan teman-temannya berusaha untuk membuat ciri khas baru sastra Indonesia yang lebih modern dan idealis.
Periode ini tidak hanya menulis, tetapi juga memikirkan konsep bangsa, budaya, bahkan bahas Indonesia itu sendiri.
Sedangkan Angkatan 45 lebih gencar untuk menyuarakan pembebasan oleh generasi muda.
Disini sastra berperan sebagai alat memperjuangkan kemerdekaan.
Chairil Anwar adalah salah satu dari tokoh lainnya yang menyuarakan kemerdekaan, pemberontakan, dan menggagas pemikiran yang lebih bebas.
Dari semua itu saya memahami bahwa sastra bukan sekedar Kumpulan ceira, namun menjadi sebuah alat perjuangan bangsa pada masa itu.
Angjkatan 60, 70-an, 80-an hingga reformasi semakin memperkaya sastra dengan tema politik dan social. Angkatan 66 membawakan isu kemanusian dan kritik kepada kekuasaan.
Pada era 70-80an, sastra meluas dengan munculnya penyair dan novelis yang lebih berani mengekspresikan rasa dengan gaya baru, simbolisme, dan kritik social. Masa reformasi juga membuka ruang kebebasan yang jauh lebih luas.
Dapat disimpulkan bahwa setiap periode menghadirkan suara baru yang dilatar belakangi oleh kondisi pada masa itu.
Sastra kontemporer yang lahir pada masa modern yakni pada tahun 1980-an hingga sekarang, sastra ini mencerminkan isu, gaya hidup, dan cara berpikir manusia masa kini.
Sastra ini tidal kagi terkait dengan karya yang memiliki kaidah klasik baik dari segi bentuk, tema, dan Teknik penulisan.
Ia menghadirkan suara-suara baru dari kelompok yang dulu kurang terwakili. Biasanya berbentuk novel urban, puisi bebas dan puisi esai, prosa mini dan fiksi spekulatif. Sering kali membahas tentang realitas media sosial, isu gender dan representasi, serta tradisi vs modernitas.
Sekarang lah sastra digital ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, sebuah karya yang diciptakan, dipublikasikan, dan dinikmati memalui media digital maupun online. Seperti halnya di computer, ponsel, dan website internet. Bukan hanya satra yang disajikan dalam bentuk digital saja, namun sastra ini lebih kreatif dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai unsur keindahannya. Sastra digital bisa berbentuk teks, suara, video, animasi hyperlink hingga gabungan dari seluruhnya.
Saya juga melihat bahwa banyak penulis muda hingga tua yang dapat dengan mudah bisa mengunggah karyanya di media digital. Ini membuktikan bahwa sastra tidak akan lekang oleh zaman yang semakin berkembang pesat.
Disini saya paham akan setiap Angkatan bukan sekedar rentang waktu, tetapi juga Gambaran perasaan Masyarakat pada zaman nya.
Dengan ini membuat saya lebih menghargai setiap karya sastra yang saya temui karena saya tahu dibalik karya itu terdapat Sejarah, konflik, dan juga suara manusia yang ingin didengar.
Saya kini memandang sastra dari perspektif lebih luas dan mendalam, itu adalah salah satu perubahan terbesar saya setelah mempelajari Sejarah sastra. Sebelum saya mempelajari Sejarah sastra, saat membaca karya sastra saya hanya memahami permukaan dari sastra itu, tetapi kini saya lebih bisa untuk memikirkan konteks social yang mendasarinya karya tersebut.
Ketika membaca karya sastra saya tidak lagi bertanya soal ‘apa yang terjadi?”, tetapi juga “mengapa sastra ini bisa lahir? Dan apa yang sedang dikritik?”.
Dengan mempelajari Sejarah sastra saya melihat sastra sebagai cermin Sejarah manusia. setiap teksnya memiliki jejak perjuangan, kegelisahan, harapan, dan perasaan batin sang penulis serta Masyarakat di sekitarnya.
Cita-cita saya yang ingin menjadi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia dengan mata kuliah ini sangat membantu pemahaman saya untuk bekal dimasa depan kelak.
Pendidikan sastra bukan hanya mengajarkan peserta didik untuk membaca dan membuat puisi, cerpen, atau novel tetapi juga membimbing agar peserta didik dapat mengetahui tentang perjalanan budaya bangsa.
Saya sadar bahwa pendidkan sastra yang baik adalah dapat mengantarkan peserta didik untuk bisa mengerti perjalanan intelektual bangsa.
Selain memperluas wawasan saya tentang historis, mata kuliah ini juga berhasil membangun sikap kritis saya terhadap perkembangan sastra dan fenomena literasi saat ini.
Sekarang sudah banyak penulis muda bermunculan di berbagai platform seperti Instagram, wattpad, tiktok, dan lainnya. Jika dahulu sastra hanya berbentuk koran, dan majalah, kini media digital menjadi ruang kreativitas baru.
Sastra tumbuh dengan pesat dan semakin berkembang hingga esok yang akan datang.
Setelahh sekitar satu semester saya mengikuti mata kuliah ini saya merasa mendapatkan pemahaman yang lebih utuh tentang sastra dapat berkembang pesat.
Dapat disimpulkan bahwa berbagai bentuk sastra dari zaman satra lisan hingga sekarang satra digital ini merupakan warisan bangsa yang harus dijaga.
Saya sangat berharap sekali bahwa bekal saya ini akan dapat membantu saya dalam mendidik siswa/I dengan baik dan efektif. Pemahaman ini lah nanti yang juga akan saya wariskan kepada siswa/I agar bisa melestarikan warisan bangsa.
Penulis : Rahma Izza Azizah_25020074102, Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya





