71 / 100 Skor SEO

Belajar Bicara dan Mengenali Diri: Refleksi Mahasiswa dari Keterampilan Berbicara Untuk Diri Sendiri

Ahmada Aurellia Maghfirani Dewi

Pertama kali saya mengikuti mata kuliah Keterampilan Berbicara, saya merasa mata kuliah ini bukan sekadar mengungkapkan kata kata, tapi juga belajar mengenali diri sendiri.

Di awal pertemuan, saya sempat merasa gugup dan belum yakin dengan cara saya menyampaikan pendapat. Namun, dari situlah saya mulai sadar bahwa saya perlu berkembang.

Mata kuliah ini bukan hanya mengajarkan saya tentang lancarnya berbicara, tetapi juga supaya kita berani berbicara didepan publik, karena saya nantinya akan menjadi seorang pengajar yang setiap harinya harus berkomunikasi dengan murid murid.

Selama satu semester saya mengikuti mata kuliah Keterampilan Berbicara, saya merasakan perubahan yang cukup berpengaruh dalam kemampuan berbicara saya.

Di awal perkuliahan kemarin itu, tidak jarang saya merasa gugup ketika berbicara di depan teman-teman dan dosen, akibatnya kata-kata yang saya ucapkan kadang tersusun kurang rapi dan belibet.

Seiring berjalannya waktu, melalui latihan-latihan dan tugas yang telah diberikan oleh Bapak Ahsan, dan diskusi dikelas, saya mulai lebih tenang saat berbicara. Saya belajar mengatur intonasi suara, memilih kata yang tepat dan terstruktur. Selain itu, kemampuan saya untuk mendengarkan orang lain dan menyesuaikan cara bicara dengan situasi juga semakin baik.

Kini, saya mulai merasa lebih percaya diri ketika berbicara di depan umum, lebih mampu menyampaikan ide dengan jelas, dan lebih siap menghadapi komunikasi dalam berbagai situasi, meskipun terkadang saya pun juga masih merasa gugup saat berbicara.

Mata kuliah ini benar- benar membantu saya memahami bahwa berbicara adalah keterampilan yang bisa terus diasah dengan terus berlatih berbicara dan kesadaran diri.

Menurut saya materi yang paling berkesan selama satu semester ini adalah saat pertemuan mata kuliah Keterampilan Berbicara ke empat, yang pada saat itu kita satu kelas disuruh main game dengan berpasangan dua orang terus dikasih kertas masing masing, satunya ngarahin perintah yang ada di kertas itu dan yang satunya nulis di kertas kotak kotak. Pada saat itu semua saling berteriak dan kelas menjadi ramai. Itu adalah hal yang menarik bagi saya.

Ada juga lagi yang membuat saya terkesan, pada saat pertemuan mata kuliah Keterampilan Berbicara pertemuan ketiga, kita disuruh menceritakan pengalaman atau dongeng untuk diceritakan kepada teman satu kelompok, setelah kita bercerita teman teman yang lain memberikan feedback, seperti kekurangan saat kita bercerita, intonasi kita, gerak tubuh kita, ekspresi kita, eye contact kita saat bercerita, dan penguasaan materi agar kedepannya saya bisa lebih memperbaiki keterampilan berbicara saya didepan umum.

Dengan adanya tugas itu, saya menjadi sadar bahwa matkul keterampilan berbicara ini bukan hanya melatih kita untuk berbicara saja tetapi juga mencakup semua aspek keterampilan, seperti keterampilan menyimak saat teman teman kita sedang bercerita, dan memberikan feedbacknya setelah itu.

Tantangan yang saya hadapi dalam mata kuliah Keterampilan Berbicara ini, ada rasa gugup saat berbicara didepan teman teman dan dosen karena dulu pada saat sekolah SMP maupun SMA jarang sekali dikasih tugas untuk berbicara ataupun presentasi didepan kelas.

Jadi di awal semester saya mulai kuliah saya sering merasa jantung berdebar, suara bergetar, dan saya sulit menyusun kata kata yang harus saya presentasikan didepan teman teman. Hal ini membuat saya kurang percaya diri dan mengganggu alur pembicaraan saya. Karena merasa gugup, saya cenderung berbicara terlalu cepat atau dengan nada yang datar. Hal ini membuat teman teman saya sulit untuk fokus mendengarkan, dan pesan yang ingin saya sampaikan jadi kurang tersampaikan dengan baik. Saya sering bingung bagaimana memulai, mengembangkan dan mengakhiri saat presentasi. Akibatnya terkadang materi yang saya sampaikan jadi tidak runtut.

Selain itu, saya juga sulit menghadapi pertanyaan atau diskusi yang mendadak. Saat sesi tanya jawab atau sesi debat yang ada pada mata kuliah keterampilan berbicara, saya sering merasa panik karena saya belum siap menjawab pertanyaan secara spontan dari teman teman.

Hal ini membuat saya kehilangan fokus dan kadang tidak bisa menyampaikan jawaban dengan baik dan benar.

Untuk mengatasi masalah yang saya hadapi tersebut, saya harus terus berkembang , yaitu dengan cara melatih keterampilan berbicara saya secara rutin. Saya sedikit demi sedikit mulai membiasakan diri latihan berbicara didepan cermin. Dengan terus berlatih, saya bisa mengenali kebiasaan buruk saya saat sedang berbicara, mengurangi rasa gugup, dan setidaknya bisa meningkatkan rasa percaya diri saya walaupun masih belum sepenuhnya.

Saya juga membuat kerangka dan mencatat poin poin penting. Cara ini membantu saya berbicara secara terstruktur, dan tidak melewatkan informasi penting. Selain itu cara saya mengatasi permasalah yang tadi, yaitu dengan cara mengatur intonasi dan tempo bicara saya.

Saya belajar memperhatikan intonasi suara, jeda, dan kecepatan berbicara. Dengan berbicara lebih pelan dan bervariasi intonasinya, pendengar pasti lebih tertarik dan mudah memahami pesan yang saya sampaikan.

Selain itu, tentunya saya juga menerima masukan dari teman teman saya. Lalu saya mencoba memperbaiki kesalahan saya untuk praktik keterampilan berbicara pada pertemuan selanjutnya.

Selama mengikuti mata kuliah keterampilan berbicara, saya menyadari bahwa kompetensi yang berkembang pada diri saya mungkin adalah publik speaking. Di awal pertemuan, tidak jarang saya merasa gugup dan jantung berdebar serta sulit menyusun kata-kata yang akan saya ucapkan, dan kurang percaya diri ketika harus berbicara di depan kelas. Namun, setelah melalui latihan presentasi, diskusi, dan simulasi berbicara di depan teman-teman, kemampuan saya untuk menyampaikan informasi secara jelas dan percaya diri saya mulai meningkat walaupun sedikit demi sedikit. Selain itu, saya rasa juga perubahan pada perkembangan artikulasi dan intonasi.

Yang dulunya saya berbicara terlalu cepat dan agak tidak jelas, sekarang saya belajar bagaimana mengucapkan kata-kata dengan jelas, menjaga tempo bicara, dan menggunakan nada suara yang bervariasi agar pesan yang saya sampaikan lebih menarik dan mudah dipahami oleh pendengar.

Pengalaman konkret saya selama satu semester ini, saya mengalami banyak perubahan, yang dulunya saya malu malu untuk berbicara apalagi didepan umum, jantung saya berdebar, merasa deg degan saat akan berbicara. Seiring berjalannya waktu selama beberapa bulan ini, saya mulai terbiasa dengan latihan latihan berbicara yang diberikan oleh Bapak Ahsan. Salah satu pengalaman yang juga berkesan bagi saya adalah saat bapak Ahsan memberikan game di web yang berisi gambar gambar dan kita memilih salah satu dengan acak, pada saat itu saya kebagian gambar koran yang muncul pada web tersebut, karena spontan saya yang terpilih, saya pun bingung mau mendeskripsikan koran itu bagaimana. Walaupun kelihatannya mudah, tetapi jika saya merasa gugup, saya pasti akan kehilangan fokus, dan membuat kata kata yang akan saya sampaikan jadi amburadul dan tentunya tidak terstruktur, intonasinya pun tidak jelas.

Dengan adanya permainan seperti itu, Bapak Ahsan mengajarkan saya untuk bisa berbicara spontan di depan banyak orang, dan melatih public speaking saya.

Harapan saya setelah mengikuti mata kuliah keterampilan berbicara selama satu semester ini semoga nantinya saya bisa menjadi pembicara yang lebih percaya diri, mampu menyampaikan ide dengan jelas, dan menarik perhatian pendengar, terlebih saya adalah calon seorang pendidik.

Saya juga berharap bisa mengatasi rasa gugup, berbicara dengan intonasi yang baik, serta menyampaikan pesan secara terstruktur dan mudah dipahami oleh pendengar.

Dan rencana pengembangan diri saya adalah melatih kemampuan improvisasi untuk kedepannya.

Saya akan berlatih berbicara spontan untuk menghadapi situasi mendadak, sehingga tetap percaya diri meski tidak mempersiapkan materi secara lengkap. Dan tentunya saya akan terus menerima masukan dari teman teman untuk kekurangan saya dalam menyampaikan informasi.

Pernyataan Orisinalitas

Saya menyatakan bahwa artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pemikiran pribadi, bukan hasil generasi AI, dan telah saya periksa menggunakan alat deteksi plagiasi serta AI detector sesuai ketentuan.